Sebelum pintu rumah baru terbuka: perjalanan terakhir nenek Maria di Ossu

Dari Martinho Belo

banner 120x600
25 Views

G-NEWS (DILI) — Di sebuah sudut Uaguia, sub distrik Ossu, Kotamadya Viqueque, kabar duka datang pada Rabu, 8 April 2026. Nenek Maria—seorang lanjut usia yang selama ini dikenal warga sekitar sebagai sosok sederhana dan pendiam—meninggal dunia setelah lama sakit.

Kepergiannya meninggalkan satu kenyataan yang terasa getir bagi keluarga: rumah bantuan yang sedang dibangun untuknya belum sempat ia tempati.

banner 325x300

Rumah itu bukan sekadar bangunan baru. Bagi Nenek Maria, ia adalah harapan untuk mengakhiri hari-hari panjang di tempat tinggal yang sudah lama tidak layak. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dalam kondisi rumah yang memprihatinkan, ditemani putranya, José Barros, yang juga hidup dengan persoalan kesehatan mental.

Dalam situasi seperti itu, kebutuhan sehari-hari tidak selalu mudah dipenuhi. Namun, keluarga besar dan para tetangga berusaha menutup kekurangan yang ada—mengantar makanan, memastikan keduanya aman, serta membantu ketika kondisi kesehatan Nenek Maria memburuk.

Di lingkungan tersebut, solidaritas bukan sekadar kata. Warga mengenal betul bagaimana rapuhnya kehidupan seseorang ketika usia, sakit, dan keterbatasan ekonomi bertemu dalam satu rumah. Karena itu, perhatian terhadap Nenek Maria tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan saling menjaga yang sudah lama hidup di komunitas itu.

Dorongan paling kuat justru muncul dari inisiatif kaum muda setempat. Mereka melihat langsung keadaan Nenek Maria dan José Barros, lalu mulai membicarakan langkah yang bisa dilakukan agar keluarga itu mendapat tempat tinggal yang lebih manusiawi.

Dari diskusi sederhana di lingkungan, gagasan itu berkembang menjadi upaya kolektif: berkoordinasi dengan pemerintah daerah, menyusun permohonan, dan mencari jalur yang memungkinkan bantuan dapat segera turun.

Upaya tersebut kemudian mengarah pada permohonan resmi kepada Presiden Republik, José Ramos-Horta, melalui Unit Layanan Masyarakat Sipil dan Urusan Sosial (SSAS) Kepresidenan Republik. Pemerintah daerah turut mendukung proses ini, sehingga permintaan tidak berhenti sebagai keluhan warga, melainkan menjadi agenda yang ditindaklanjuti secara kelembagaan.

Respons datang dalam bentuk yang nyata: pembangunan rumah baru. Program ini dijalankan oleh Tim Komunitas SSAS Kepresidenan Republik, yang turun langsung untuk memulai pekerjaan di lapangan.

Sebagai penanda dimulainya proyek, dilaksanakan upacara peluncuran peletakan “batu pertama” pada Maret 2026. Bagi warga, seremoni itu bukan formalitas belaka—ia menjadi simbol bahwa perhatian negara bisa hadir sampai ke tempat-tempat yang jauh dari pusat, menyentuh kehidupan orang-orang yang selama ini bertahan dalam keterbatasan.

Namun waktu tidak selalu berpihak. Kondisi kesehatan Nenek Maria terus menurun. Di tengah proses pembangunan yang masih berjalan, ia akhirnya meninggal dunia pada 8 April 2026. Rumah yang dibangun untuknya pun berubah makna: dari tempat tinggal yang dinanti, menjadi jejak dari sebuah niat baik yang datang terlambat untuk satu orang, tetapi tetap penting bagi keluarga yang ditinggalkan.

Bagi José Barros, kehilangan itu menambah beban hidup yang sudah berat. Dalam banyak kasus, keluarga dengan anggota yang mengalami gangguan kesehatan mental membutuhkan dukungan berlapis—bukan hanya bantuan fisik seperti rumah, tetapi juga pendampingan sosial dan akses layanan kesehatan yang konsisten.

Di sinilah peran komunitas kembali terlihat. Setelah Nenek Maria wafat, keluarga dan tetangga tetap berada di sekitar mereka, memastikan proses pemakaman berjalan layak dan José Barros tidak dibiarkan menghadapi situasi itu sendirian.

Keluarga menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Republik atas dukungan yang diberikan, termasuk bantuan selama proses pemakaman. Ucapan itu bukan sekadar formalitas. Bagi mereka, perhatian yang datang—meski tidak sempat dinikmati langsung oleh Nenek Maria—tetap berarti sebagai pengakuan bahwa kehidupan orang kecil pun layak diperjuangkan.

Kini, rumah tersebut masih dalam tahap pembangunan. Di mata warga, penyelesaiannya menjadi penting bukan hanya sebagai pemenuhan janji, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap tujuan awal program: menghadirkan tempat tinggal yang lebih aman dan bermartabat bagi keluarga yang rentan.

Kisah Nenek Maria pada akhirnya menjadi pengingat bahwa pembangunan sosial sering kali berpacu dengan waktu, dan bahwa kecepatan respons dapat menentukan apakah bantuan menjadi penyelamat, atau sekadar datang sebagai penutup luka.

Di Uaguia, cerita ini tidak berhenti pada duka. Ia juga memotret kerja bersama—anak muda yang bergerak, pemerintah daerah yang menguatkan, lembaga negara yang merespons, serta komunitas yang menjaga satu sama lain.

Di antara senyapnya kehilangan, masih ada pesan yang tersisa: solidaritas dapat membuka jalan, tetapi keberlanjutan dan ketepatan waktu adalah kunci agar harapan tidak berhenti di tengah pembangunan.

Kepresidenan Republik juga memberikan dukungan finansial untuk upacara pemakaman, termasuk makanan dan kebutuhan pokok seperti beras (5 karung 25 kg), minyak bimoli (5 liter, 2 kotak), supermie (5 kotak), manutolun (1 kotak) dan uang tunai sebesar $250. Dari jumlah tersebut, $50 digunakan untuk membeli bunga dan sisanya $200 disalurkan kepada keluarga, melalui putri dan putra José Barros.

Pemerintah daerah dan masyarakat berharap pembangunan tempat penampungan dapat terus berlanjut hingga selesai, menjadi aset penting bagi keluarga yang hidup dalam kondisi rentan di daerah tersebut.

relavante