G—NEWS (DILI) — Lebih dari 100 ribu umat Katolik dari seluruh penjuru negeri berkumpul di Tasitolu, Dili, untuk merayakan Misa Kudus sekaligus mengiringi pemakaman Paus Fransiskus. Suasana haru mendominasi upacara akbar tersebut, menandai duka mendalam atas wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia.
Misa agung ini dipimpin oleh uskup Leandro Maria Alves, dan imam dari keuskupan Dili, dihadiri pula oleh perwakilan pemerintah dan komunitas internasional. Pemerintah secara resmi menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari, sebagai penghormatan terakhir kepada Paus Fransiskus yang dalam masa pontifikalinya telah meninggalkan jejak mendalam bagi dunia, khususnya bagi umat Katolik di negara ini.

Dalam homilinya, Uskup Leandro Maria Alves mengenang peristiwa bersejarah di lokasi yang sama, dengan mengatakan, “Pada tanggal 10 September 2024, di tempat ini dan pada saat yang sama, kita semua memenuhi tempat ini bersama dengan Vikaris Kristus untuk mempersembahkan kurban Ekaristi kepada Tuhan. Di tempat inilah kita semua bersuka cita, bersorak menghormati Paus Fransiskus, memanggil namanya, bersorak; Hidup Paus Fransiskus”.
“Hari ini kita semua berkumpul lagi di tempat ini untuk mempersembahkan Kurban Ekaristi yang sama kepada Tuhan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan karena Tuhan telah membuat kita mampu mengalami kehadiran Tuhan melalui Paus Fransiskus yang datang mengunjungi negeri kita tercinta”.
Paus Fransiskus adalah orang yang sederhana, hidup dalam kemiskinan, berbicara dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh semua orang, orang yang rendah hati, merangkul semua orang, berteman dengan semua orang dan semua agama, mencintai alam, tersenyum, selalu tersenyum, penuh kasih, seorang santo.
Paus Fransiskus sendiri mengungkapkan sabda Kristus yang ditujukan kepada para rasul: “Selamat tinggal” Kesederhanaan Paus Fransiskus dengan jelas menunjukkan bahwa ia berdamai dengan dan bersama Tuhan. Dia tidak takut berbicara karena dia berdamai dengan Kristus.
Dalam homilinya, Uskup Leandro Maria Alves menyampaikan bahwa kehadiran seseorang yang dekat dengan Tuhan memancarkan sukacita dan kenyamanan bagi siapa saja yang melihat atau bertemu dengannya. Ia mengatakan, “Semua orang gembira, merasa nyaman saat melihat dan bertemu dengannya. dalam dirinya ada kekuatan yang menarik kita, menarik orang, membuat orang bahagia dan memuji Tuhan. Kekuatan yang menarik ini adalah Tuhan sendiri. Dia tinggal bersama Tuhan. Itulah sebabnya perkataan dan tindakannya mengekspresikan Tuhan sendiri”.
“Kami orang Timor Leste bangga karena kami adalah tujuan terakhir kunjungannya dan kunjungan dengan perjalanan yang sangat panjang. Kami orang Timor juga senang karena gembala kami Atan mengunjungi tanah kami untuk menemui kami, bernafas bersama kami, berbicara bahasa kami dan meninggalkan kata-kata emas yang indah bagi kami. Kami sangat gembira saat mendengar Paus mengatakan HAU NIA FUAN MONU BA TIMOR-LESTE”.

Kata ini unik dan khusus hanya bagi orang Timor. Paus Fransiskus tidak mengucapkan sepatah kata pun seperti di negara lain dalam kunjungannya. Kata-kata indah yang singkat ini dapat diucapkan sebagai rangkuman kunjungan Paus ke Timor-Leste. Pernyataan ini juga menunjukkan bahwa Paus tidak lelah dengan kegiatan pastoralnya di Timor-Leste.
“Sebagai orang Timor, ketika kami mendengar kata ini kami semua merasa bahagia dan kebahagiaan kami bertambah. Kami sangat gembira dengan kunjungan Paus, tetapi kebahagiaan kami bahkan lebih kuat ketika kami tahu bahwa Timor ada di hati Paus”.
Dalam suasana yang penuh doa dan air mata, G-NEWS berkesempatan berbicara dengan beberapa umat yang hadir. João Gomes, seorang peziarah dari Dili, menyampaikan rasa kehilangannya. “Saya sangat sedih. Paus Fransiskus adalah sosok yang sederhana, penuh kasih, dan selalu berpihak kepada kaum kecil. Dunia telah kehilangan seorang bapak,” ujarnya dengan suara bergetar.
Marilia Rosa, yang datang bersama keluarganya dari Liquiça, mengungkapkan bahwa kehadirannya di Tasitolu adalah bentuk penghormatan terakhir. “Kami datang untuk bersatu dalam iman dan mengucapkan selamat jalan kepada pemimpin rohani kami,” katanya.
Sementara itu, Ermundo Piedade menekankan makna kehadiran Paus Fransiskus dalam hidupnya. “Beliau mengajarkan bahwa kasih dan perdamaian harus mengalahkan segala bentuk kebencian. Ini pelajaran yang akan kami wariskan kepada anak-anak kami,” tuturnya.
Carlos Mota, yang turut hadir bersama komunitasnya, menggambarkan suasana Misa sebagai “Umat katolik di Timor Leste yang bersatu dalam doa dan kedukaan.” Menurutnya, momen ini memperlihatkan betapa besar cinta umat kepada Paus.

Dulce Belo, dari Baucau, menambahkan bahwa kepergian Paus Fransiskus membawa kesedihan mendalam namun juga menyalakan harapan baru. “Kita berduka, namun juga dipanggil untuk melanjutkan ajaran-ajaran kasih dan keadilan yang beliau tanamkan,” ungkapnya.
Sepanjang hari, ribuan lilin dinyalakan, lagu-lagu doa bergema, dan bendera nasional dikibarkan setengah tiang sebagai simbol penghormatan. Banyak umat terlihat mengenakan pakaian putih, melambangkan harapan dan iman yang teguh meski di tengah kehilangan besar.
Perayaan Misa di Tasitolu ini menjadi peristiwa bersejarah yang memperlihatkan solidaritas luar biasa dari masyarakat, menegaskan bahwa warisan iman dan nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan Paus Fransiskus akan terus hidup dalam hati umat Katolik di seluruh negeri.
Oleh karena itu, kata-kata Paus merupakan ungkapan cintanya yang dalam dan tulus kepada kita semua orang Timor. Perkataan Paus tersebut juga merupakan penegasan kembali iman rakyat Timor Leste, penegasan kembali cinta rakyat Timor Leste kepada Paus.
Paus mencoba membuat orang Timor mencintai Paus dan Paus melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa negara kami sangat Katolik dan toleran. Paus adalah Gembala yang baik, yang mengenal baik kawanan dombanya, kehadirannya mempersatukan orang Timor, menyemangati kami orang Timor untuk memegang teguh iman kami.
Sesungguhnya, iman kita yang mempersatukan kita. Keyakinan ini menyatukan kita untuk membangun Perdamaian. Jadi, iman perlu menjadi sebuah budaya. Kunjungan Paus meninggalkan kabar baik bagi anak-anak kita. Kata-kata emas itu menjadi buku dan tanah hitam bagi kehidupan masyarakat dan gereja di Timor.
Paus mengungkapkan pengalamannya dengan orang Timor dengan mengatakan bahwa Timor adalah orang yang sederhana, ceria, penuh tawa, cerdas, beriman, sebuah negara di ujung dunia yang menjadi pusat. Timor memang banyak keindahannya, namun kekayaan yang paling indah atau paling besar adalah manusianya, maka berusahalah untuk menjaga manusianya.
Paus meminta lapisan sosial untuk bergandengan tangan melihat dan mengasihi orang-orang. Paus mengatakan bahwa peduli terhadap rakyat berarti berupaya mengembangkan negara dan kesejahteraan rakyat.

















loading="lazy" />