G—NEWS (CERPEN) — Ramelau, ada suara-suara lirih yang tak pernah masuk dalam buku sejarah. Salah satunya berasal dari keluarga Revolta, yang hidup di ujung derita tanpa satu pun janji dari tanah yang mereka cintai.
Di musim paceklik, daun ubi menjadi lauk harian. Nasi hanya hadir sekali dalam upacara adat. Revolta pernah berjalan dua hari ke pasar di Liquiça, hanya untuk menukar tiga butir kopi dengan segenggam jagung kering. Di rumah, Revolusionária menunggu bersama anak-anaknya yang perutnya mulai kembung bukan karena kenyang, tapi karena lapar kronis.
Tahun 1825, sistem kerja paksa diterapkan lebih ketat oleh administrasi kolonial Portugis. Laki-laki dewasa dari desa wajib menyumbangkan tenaga untuk membuka jalan, menebang hutan, atau mengangkat batu ke pelabuhan. Bayarannya? Sepiring nasi basi dan ancaman cambuk bagi yang menolak.
Revolta dipaksa meninggalkan ladangnya setiap minggu. Ia bekerja di bawah todongan senapan, tanpa alas kaki, mengangkat batu kapur yang digunakan untuk membangun kantor administrasi kolonial. Tubuhnya penuh luka, tapi semangatnya tetap disimpan rapat untuk keluarganya.
Sementara itu, Revolusionária dan Bii-Leki harus menyuplai makanan ke tempat kerja paksa. Mereka berjalan berjam-jam sambil membawa labu rebus atau bubur jagung, kadang dengan nyanyian pelan untuk menyembunyikan rasa takut. Di sepanjang jalan, mereka menyaksikan tubuh-tubuh yang tumbang, terkubur tanpa nama, hanya dikenang sebagai angka dalam laporan pejabat Eropa.
Tak cukup dengan kerja paksa, keluarga miskin seperti Revolta juga harus membayar pajak tanah, bahkan pajak atas hewan peliharaan. Sekali waktu, Revolta menjual satu-satunya ayam betinanya demi membayar pungutan. Ketika ditanya oleh Mauleki mengapa mereka membayar tanah yang sudah mereka garap sejak leluhur mereka, Revolta hanya menjawab, “Karena kita tidak dianggap punya apa-apa, bahkan diri kita sendiri.”
Pajak itu dipungut oleh penjaga lokal yang bekerja untuk penguasa Portugis. Banyak keluarga kehilangan tanah karena gagal membayar. Mereka menjadi penggarap di ladang yang dulunya milik sendiri. Mauleki pernah mencatat di balik kulit kayu: “Kami tak punya tanah lagi, hanya tubuh kami yang lelah.”
Pendidikan: Hak yang Dicabut
Sekolah hanya ada di pusat kota, dan itu pun hanya untuk anak-anak pejabat atau mereka yang tunduk pada sistem gereja kolonial. Mauleki, yang cerdas dan haus ilmu, hanya bisa memandangi anak-anak berpakaian bersih masuk ke bangunan batu tempat ia tak pernah diizinkan masuk. Ia belajar membaca dari sobekan koran tua, mencocokkan huruf dengan cerita ibunya, dan menulis dengan arang di atas bambu.
Revolusionária pernah memohon kepada pastor agar Mauleki diajari membaca secara formal. Tapi jawabannya tajam: “Anak petani sebaiknya belajar menggali tanah, bukan membuka buku.” Kalimat itu menancap dalam hati Mauleki, menjelma api yang menyala tiap malam.
Tangisan yang Tak Didengar
Pada puncak musim kelaparan, ketika hujan tak kunjung datang dan hasil hutan lenyap, keluarga Revolta hampir menyerah. Mauleto yang masih kecil menangis semalaman karena perutnya sakit. Tak ada beras, tak ada garam. Revolusionária hanya bisa memeluknya dan menyuapi air rebusan daun kering.
Malam itu, Revolta duduk di luar rumah, menatap bintang dan berbisik: “Kalau kami mati, siapa yang akan tahu kami pernah hidup?” Tapi esok paginya, ia bangkit, memanggul cangkul, dan berjalan ke ladang keringnya. Karena bagi mereka, hidup bukan pilihan—tapi bentuk perlawanan sunyi.
Penutup: Menulis dari Lubuk Terluka
Kisah keluarga Revolta bukan satu-satunya di tanah Timor kala itu. Tapi merekalah yang diam-diam menulis di balik penderitaan. Tinta mereka bukan dari tinta Eropa, melainkan dari darah dan arang, dari air mata dan debu. Cerita mereka menyusup ke ingatan kolektif rakyat, menjadi api kecil yang tak pernah padam.
Dalam dunia yang hanya mencatat penguasa, suara orang kecil seperti Mauleki menjadi pelita dalam gelap sejarah. Kini, dua abad kemudian, anak-anak di lereng Ramelau masih menyebut nama-nama itu dalam syair rakyat: Revolta, Revolusionária, Mauleki, Bii-Leki, dan Mauleto—lima jiwa yang hidup dalam kelaparan, tapi mati dalam kemuliaan.

















loading="lazy" />