G—NEWS (DILI) — Suasana hening menyelimuti Tasitolu, sebuah lokasi bersejarah di pinggiran Kota Dili, saat ribuan warga Timor Leste berkumpul pada malam hari untuk menyalakan lilin sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi Bapa Suci Francisco yang baru saja wafat. Terang lilin yang membentang dari pelataran hingga tepi danau menjadi simbol duka dan cinta yang dalam dari rakyat terhadap pemimpin spiritual umat Katolik sedunia.

Tasitolu bukan sekadar tempat. Bagi masyarakat Timor Leste, kawasan ini menyimpan makna mendalam. Pada 9 hingga 11 September 2024, Bapa Suci Francisco menginjakkan kaki di tanah ini dalam kunjungan pastoralnya yang pertama dan terakhir ke negara yang mayoritas penduduknya menganut Katolik. Misa akbar yang dilangsungkan di Tasitolu waktu itu menghadirkan puluhan ribu umat dan meninggalkan jejak spiritual yang tak terlupakan.
Kini, tujuh bulan setelah kunjungan tersebut, tempat yang sama kembali dipenuhi umat. Namun kali ini, mereka hadir bukan untuk bersukacita, melainkan untuk meratapi kepergian seorang pemimpin yang mereka cintai. Lilin-lilin kecil yang menyala di bawah langit malam Timor Leste menjadi bentuk ungkapan belasungkawa yang tulus dari masyarakat yang merasa kehilangan.

Anak-anak berdiri bersisian dengan orang tua mereka. Remaja, orang dewasa, bahkan lansia datang mengenakan pakaian gelap, membawa rosario, bunga, dan gambar Bapa Suci. Doa-doa dilantunkan dalam bahasa Tetum dan Portugis, menciptakan suasana sakral yang menyentuh hati. Tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata.
Belarmino Sequeira, seorang warga lokal asal Becora, kepada G-NEWS menyampaikan rasa dukanya yang dalam.
“Kami kehilangan lebih dari seorang Paus. Kami kehilangan sosok ayah rohani yang datang membawa harapan. Kunjungan beliau ke sini adalah berkat besar bagi kami. Hari ini, kami kembali ke Tasitolu untuk mengatakan terima kasih dan selamat jalan,” ujarnya dengan suara parau menahan tangis.

Hal senada diungkapkan oleh Eugenio Lopes, seorang guru agama Katolik di salah satu sekolah di Dili.
Ia menuturkan bahwa pesan-pesan kasih dan pengampunan yang disampaikan Bapa Suci semasa hidupnya menjadi pegangan moral yang kuat bagi banyak warga.
“Beliau mengajarkan kami untuk tidak menyerah dalam penderitaan, untuk mencintai tanpa syarat. Wafatnya Bapa Suci adalah kehilangan bagi dunia, tapi lebih-lebih bagi kami yang pernah disentuh secara langsung oleh kehadirannya,” katanya.
Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika Margaretha Ximenes, seorang ibu tiga anak dari Bairro Pité, berjalan pelan ke altar sederhana yang dibangun warga di tengah Tasitolu. Ia meletakkan seikat bunga putih dan menunduk lama di depan gambar Bapa Suci.

“Saya membawa anak-anak saya karena saya ingin mereka tahu siapa yang pernah mendoakan mereka dari mimbar ini. Kami mencintai beliau. Saya tak tahu bagaimana menjelaskan kesedihan ini,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak hanya umat Katolik, beberapa perwakilan dari komunitas agama lain pun turut hadir. Mereka menunjukkan rasa solidaritas dan turut berduka atas wafatnya tokoh lintas agama yang dikenal dengan sikap inklusif dan penuh kasih. Upacara malam itu menunjukkan bahwa pesan universal Bapa Suci telah menyentuh hati banyak orang, melampaui batas agama dan etnis.
Presiden Republik Timor Leste turut memberikan pernyataan resmi. Dalam siaran persnya, Presiden Republik menyatakan duka mendalam dan mengenang kunjungan Bapa Suci sebagai tonggak penting dalam sejarah hubungan diplomatik dan spiritual antara Vatikan dan Timor Leste. Dinyatakan pula bahwa hari berkabung nasional akan ditetapkan secara simbolis sebagai penghormatan kepada mendiang Paus.
Di sela-sela keramaian, terdengar lagu-lagu pujian dinyanyikan perlahan oleh kelompok paduan suara gereja. Umat bergandengan tangan, menciptakan lingkaran doa yang penuh makna. Sekilas, suasana tersebut mengingatkan pada perayaan misa tahun lalu, namun kali ini diselimuti kesedihan yang mendalam.

Beberapa warga membawa kenang-kenangan dari kunjungan Bapa Suci: salib kecil yang diberkati langsung, bertuliskan “Francisco iha Timor Leste”, serta foto-foto kunjungan pastoral yang dibingkai dengan rapi. Semua itu kini menjadi relik pribadi yang menyimpan nilai sentimental tinggi.
Tidak sedikit pula yang menyampaikan bahwa pesan-pesan Bapa Suci akan terus hidup dalam kehidupan sehari-hari mereka.
“Kami akan terus melanjutkan apa yang beliau ajarkan: menjaga kedamaian, mengasihi sesama, dan selalu berharap dalam iman,” tutur Josefa Amaral, seorang mahasiswa yang turut menyalakan lilin bersama teman-temannya.
Peringatan malam itu bukan sekadar ritual belasungkawa. Ia menjadi simbol ikatan spiritual antara Timor Leste dan Bapa Suci Francisco yang tak akan mudah terhapus waktu. Lilin yang menyala di Tasitolu adalah cahaya harapan yang ingin terus dijaga, bahkan setelah kepergian sosok yang pernah hadir membawa terang.

















loading="lazy" />