G-NEWS (CERPEN) — Rimbunnya hutan yang kami jejaki, dan buasnya binatang yang diwanti-wanti, kini lenyap dari pikiran.
Suara mama yang lama tak terdengar oleh kakak Plácido, akhirnya kembali menggema dalam sambungan telepon yang penuh haru. Komunikasi yang telah terputus selama belasan tahun, kini tersambung kembali.
Suara mama tetap sama, penuh kerinduan dan kasih, menyentuh relung hati kakak yang lama terpisah.
Perjalanan pulang dari bukit terasa ringan. Kakak Plácido terus bersiul sepanjang jalan, hatinya riang tak terkira.
Orang-orang yang dikasihinya di Timor Leste, semua masih ada, menanti kepulangannya.
“Gimana rasanya berbicara dengan mama?” tanyaku.
“Waduh, senang sekali. Pokoknya, saya harus pulang,” jawabnya dengan mata berbinar.
Setibanya di rumah, wajah-wajah yang sebelumnya murung kini ceria.
Kakak Plácido, istrinya, anak-anak, bahkan mama mertua mereka, semua tampak bahagia. Kakak tak lagi merasa sendiri; ia memiliki keluarga besar di Timor Leste yang menantinya.
Kami duduk santai, menikmati teh hangat dan kripik ubi yang disuguhkan oleh kakak ipar. Rasa nikmatnya seolah menambah kebahagiaan kami setelah perjalanan panjang.
Para tetangga pun datang bergabung, bercerita dan berbagi keceriaan.
Selama ini, mereka mengira kakak Plácido tak punya keluarga karena jarang bercerita tentang asal-usulnya.
Malam tiba, suara-suara alam menyelimuti tidur kami.
Tidur kami nyenyak diiringi simfoni alam Kalimantan.
Keesokan paginya, saya pergi mandi di sungai bersama ponakan-ponakan yang masih kecil.
Mereka sangat lihai berenang, lahir dan besar di tepi Sungai Kahayan yang besar, menurut kisahnya sungai ini tak pernah kering airnya.
Hubungan darah sebagai keluarga, membuat kedekatan dengan ponakan semuanya terasa cepat terjalin.
Ponakan-ponakan yang sebelumnya tak mengenalku, kini memanggilku “Mamang,” seperti panggilan mereka untuk om dalam bahasa Dayak.
Ada Hendra dan juga Charles, yang paling kecil, selalu minta digendong.
Mereka sangat bahagia dengan kehadiranku.
Saya juga sempat membelikan mereka beberapa baju, ketika dalam perjalanan saat awal tiba.
Ponakan-ponakanku berjumlah tiga orang, semua laki-laki (Korea, Hendra dan Charles).
Sayang sekali, anak perempuan pertama, Sónia, namanya, meninggal karena jatuh di sungai saat usianya baru satu tahun lebih (bisa lihat di foto).
Anak kedua, Korea, lahir dengan kondisi bibir sumbing.
Saat itu dia sudah di bangku SD kelas 6. Semangatnya luar biasa.
Melihat kondisinya, dalam hati saya berdoa agar bisa membantunya mendapatkan operasi. Sehingga ketika pertama kali menelepon adik Nuel di Jakarta, saya ceritakan kondisi ponakan ini.
Adik Nuel langsung berkata, “Nanti kakak frater urus, segera terbangkan ke Jakarta kalau sudah di Palangka Raya.”
Terima kasih Tuhan, harapan baru muncul.
Tanpa terasa, saya sudah seminggu lebih bersama mereka, merajut kembali tali kekeluargaan yang lama putus.
Raut wajah kakak Plácido kadang terlihat senang, gembira, namun beberapa kali ia nampak murung.
Ketika kutanya kenapa, ia menjawab, “Kini aku harus pulang. Pulang ke pangkuan bapa mama.”
Kerinduannya untuk segera kembali ke Timor Leste sangat besar.
Namun, bagaimana dengan istri dan anak-anaknya?
Dari raut wajah mereka, tampak semua ingin ikut pergi.
Saat itu sudah di penghujung perayaan Natal. Saya pun harus segera kembali ke Seminari Tinggi untuk persiapan novisiat kekal di awal Tahun Baru nanti.
Saya sampaikan kepada mereka bahwa saya harus balik ke Maumere, ke Seminari Tinggi, yang menjadikan saya seperti saat ini, untuk melanjutkan formasi saya.
Namun, sebelum itu, saya masih bisa merayakan Natal di sini. Maka saya mengajak mereka merayakan Natal di Paroki Santo Arnoldus Yanssen di Kurun, tempat pernikahan mereka dulu.
Pada tanggal 23 Desember 2012, kami berangkat ke paroki tersebut.
Syukur ada pastor senior saya, P. Sipri Wagung (Sekarang di Jakarta), yang menerima kami dengan baik.
Beliau menyediakan penginapan dan akomodasi.
Kakak Plácido bersama keluarga istrinya sangat senang dan merasa sangat diperhatikan secara baik di sini.
Terima kasih kakak Pater Sipri (info: Kami adalah satu keluarga dalam Serikat Missi yang sama, SVD).
Kami bermalam di paroki itu.
Pada malam Natal, Pastor Sipri, meminta saya memperkenalkan diri dan berbagi pengalaman pencarian kakak Plácido.
Ini momen yang baik untuk berbagi kisah iman kami kepada semua yang hadir.
Setelah memperkenalkan diri, saya berbagi refleksi singkat, kurang lebih seperti ini:
“Natal adalah pesta iman untuk mengenang kelahiran Yesus Tuhan kita.
Bagi saya dan keluarga di Timor Leste,
Natal tahun 2012 ini, sungguh bermakna.
Kami mencari kakak Plácido yang hilang, ditemukan,
bahkan sudah dianggap mati,
kini lahir kembali.
Terima kasih Tuhan.”
Semua yang hadir terharu dan penasaran, sehingga setelah misa kami rayakan sukacita Natal bersama.
Setelah merayakan Natal, kami berangkat menuju ibu kota provinsi, Palangka Raya.
Bersambung… Ditunggu Episode berikutnya di Ibu Kota Palangka Raya dan urusan keberangkatan ponakan untuk operasi di Jakarta..
(Ditunggu episode selanjutnya)

















loading="lazy" />