Krisis selibat di kalangan Klerus

(Oleh : Mgr. Julius Sunarka SJ

Foto: Mgr. Julius Sunarka SJ
Foto: Mgr. Julius Sunarka SJ
banner 120x600
207 Views

G—NEWS (OPINI) — “Kalau imam selibat, atau uskup selibat, tetapi mempermainkan perempuan, itu sangat melukai. Dan ini sangat susah disembuhkan, sekaligus menimbulkan kurasan energi yang membuat kebencian luar biasa”

Merenungkan krisis selibat yang mencuat di kalangan klerus, Uskup Purwokerto, Mgr Julius Sunarka SJ melihat perlunya imam mengolah berbagai sisi kehidupannya.

banner 325x300

Hal penting yang perlu disadari adalah daya dorongan relasi erotis. Daya dorongan itu tersimpan dalam tubuh, otak, saraf, dan hormonal. Akan tetapi kita perlu menempatkan dalam hikmah kebijaksanaan penghayatan dorongan erotis secara baik dan menurut kehendak Tuhan. Kalau kita mengambil sikap selibat, artinya kita juga harus menempatkan dorongan relasi erotis itu dalam status martabat keselibatan kita.

Imam, selain perlu menyadari adanya energi erotis dalam dirinya, juga perlu melihat kesakralan organ genitalnya. Di zaman modern, orang makin berada dalam ketertutupan terhadap nilai-nilai iman. Padahal, dulu iman menjadi prioritas dalam hidup seseorang. Dulu daya erotis masih disakralkan, disucikan. Ketika zaman berkembang semakin sekuler seperti sekarang, penghargaan organ genital dan dorongan erotis dipotong dari kesucian.

Mengapa organ kelamin itu ditutupi celana? Karena mau mengatakan ini barang suci. Setidaknya, kalau orang Papua, pakai koteka.

Orang-orang yang memilih selibat dan mengalami kekacauan nilai, menjadikan organ genital itu tidak lagi dilihat sebagai barang suci. Meskipun menjadi imam, ia tetap melakukan hubungan badan dengan perempuan. Penghayatan sakralitasnya kacau.

Keprihatinan itu bukan hanya pada imam yang bersangkutan, tetapi juga pada perempuan yang menjadi “korban”. Hubungan badan adalah relasi yang total. Hubungan seksual itu menyangkut pertalian yang kuat. Itu menyangkut mistik kesatuan lelaki dan perempuan. Kalau mistik kesatuan hanya permainan akan menimbulkan luka batin yang mendalam.

Kalau imam selibat, atau uskup selibat, tetapi mempermainkan perempuan, itu sangat melukai. Dan ini sangat susah disembuhkan, sekaligus menimbulkan kurasan energi yang membuat kebencian luar biasa.

Di sisi lain, fenomena krisis selibat klerus muncul sejalan dengan maraknya budaya seks bebas. Budaya ini, terkait dengan cyber media. Lewat berbagai alat komunikasi modern orang bisa mengakses konten pornografi. Ini membuat daya dorongan erotis itu menguasai jiwa orang yang bersangkutan. Hidupnya, menit demi menit dikuasai dorongan erotis. Bahkan, ada imam yang menggunakan internet sebagai pelepas atau pemuas dorongan erotisnya atau istilahnya “bersetubuh dengan internet”.

Pengolahan dorongan erotis dalam diri para imam, juga perlu sampai menilik pada pengalaman masa kecil mereka. Di zaman modern, anak-anak menjadi rentan pada pengalaman luka batin. Mereka mengalami kekurangan kasih sayang. Mereka diasuh pembantu sehingga kasih sayang ibu menjadi kurang intensif seperti yang diharapkan.

Ketika imam menggauli perempuan, ia hendak merebut cinta perempuan itu. Tetapi ternyata tak cukup hanya dengan satu perempuan, lantas cari yang lain. Maka ada yang menggauli perempuan sampai lima, bahkan delapan.

Seringkali yang bersangkutan tidak menyadari permasalahan tersebut. Hal itu membuat dirinya tersandera. Ia seakan-akan tidak berdaya sama sekali meskipun pendidikannya sangat tinggi.

Untuk membantu mengatasi berbagai masalah itu, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, adalah informasi. Setiap orang, baik lelaki maupun perempuan hendaklah memahami energi erotis di dalam dirinya. Mereka perlu diberi pendidikan seksualitas.

Kedua, adalah formasi. Kalau sudah tahu tentang seksualitas, lantas mereka belajar mengolah dinamika daya erotis.

Ketiga, adalah transformasi. Setiap kali mengalami dan merasakan dinamika daya erotis, perlu sadar dan melihat apakah hal ini selaras dengan kehendak Tuhan dan panggilan imamatnya atau tidak.

Ketiga hal ini, perlu diberikan kepada para calon imam.

 

A. Benny Sabdo
Laporan: Yosephine Ingrid KD (Yogyakarta) dan Sutriyono (Purwokerto)

Majalah Hidup edisi 21/9/2014

Jakarta, 17 Desember 2025

relavante